Rabu, Desember 19, 2012

Manusia Setengah Manusia


Semua manusia menganggap bahwa manusia adalah ciptaan tuhan yang paling sempurna.
Menurut saya mereka semua terlalu sombong untuk mengatakan bahwa mereka adalah makhluk yang sempurna.

Lebih menjerumus lagi,
laki-laki lebih sempurna daripada perempuan.
Hampir semua manusia berpikiran seperti itu,
dan perempuan sebagai makhluk nomor 2, mengiyakannya dengan begitu saja.

Saya tidak suka melihat pemikiran-pemikiran yang dianut oleh sebagian besar orang tersebut, menurut saya mereka salah kaprah. Tanpa ada urusan dengan asal perempuan dari tulang iga laki-laki dan  puluhan bidadari cantik yang dijanjikan di sorga, saya ingin menceriktakan pandangan saya bahwa lelaki adalah sisi buruk perempuan.

Cerpen saya berjudul manusia setengah manusia karena menurut saya tidak ada manusia yang benar-benar sempurna seperti apa yang diharapkan, diidam-idamkan, dan dikhayalkan oleh orang-orang.

Sekedar memberi tahu, saya tidak bisa membuat cerpen.
Jadi harap maklum kalau cerpen saya jelek, he he he

Selamat membaca,
Salam #mawarnakal saja ...



Manusia Setengah Manusia


Manusia tidak pernah sempurna dalam pemikirannya,
selalu ada cacatnya,
begitu juga aku, kamu, dan mereka,
tanpa terkecuali, semua manusia dalah cacat.
Kecacatan bermula dari ketidakpuasan,
dan bertambah cacat ketika menuntut perubahan,
perbedaan keadaan dari satu keadaan ke keadaan sebelumnya dinilai suatu anugerah.

Tetapi,
tidak sembarang orang yang bisa menerima anugerah.


Di teras rumah, malam hari.
Pada saat itu banyak bintang bertebaran tidak tertata rapi di langit, sehingga banyak orang yang bermuluk-muluk berharap ada bintang jatuh dan bermuluk-muluk juga meminta permintaannya dikabulkan.
“Kamu inginkan anak kita terlahir perempuan atau lelaki?” Tanya seorang ibu yang sudah hamil lebih dari 3 bulan.
“Untukku sama saja, perempuan atau lelaki sama saja. tetapi aku sudah mempersiapkan nama yang bagus kalau anakku nanti terlahir perempuan. Namanya adalah Rosena. Mungkin nama panjangnya Rosena Virginia Putri, ya, Rosena Virginia Putri Kartono, namaku terletak di belakang namanya. Aku tidak bisa mendefinisikannya, yang pasti ada unsur keindahan bunga mawar, kecantikan wanita, dan keagungan seorang perawan, tak lupa juga namaku dibelakang anak itu nanti, agar orang tahu siapa bapaknya” Jawab suami ibu tersebut dengan lantang dan penuh semangat.
“Bagaimana kalau anak kita terlahir laki-laki? Firasatku berkata anak dalam kandunganku ini laki-laki.” Tanya ibu hamil itu dengan nada agak cemas. Ibu hamil tersebut mendadak cemas ketika mlihat wajah suaminya yang tampak girang berbunga-bunga.
“Aku khan sudah bilang tidak apa-apa, sama saja. Hanya saja, kalau anakku terlahir perempuan aku sudah menyiapkannya sebuah nama.” Tanpa diketahui sebabnya, percakapan sepasang suami istri tersebut tiba-tiba saja mulai terasa seperti perdebatan sengit.
“Sepertinya kamu tidak siap punya anak, anak laki-laki maksudku.”
“Kalau aku bilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa, jangan kamu permasalahkan. Lebih baik kamu fokus merawat kandunganmu saja. Terlahir perempuan atau laki-laki sama saja.”
“Aku tahu sifatmu, sudah berapa lama kita saling kenal?
Kalau kamu ingin mendapat sesuatu kamu akan berusaha untuk mendapatkannya.
Sekali ini, kamu tidak bisa berbuat apa-apa kalau anakmu terlahir laki-laki.”
“Sepertinya kamu yang bermasalah,
aku tidak memiliki masalah dalam kelamin anak kita nanti Bu.
Sudah kenal cukup lama tetapi kamu belum juga mengenal aku.”
“Aku mengenalmu, dan sangat mengenalmu.”
“Kalau kamu mengenalku seharusnya kamu tidak mengkhawatirkanku.”
“Karena aku sangat mengenalmu dalam waktu yang cukup lama di LSM,
itu yang membuatku khawatir.” Suara ibu hamil tersebut terdengar datar.
“Apa yang kamu khawatirkan dari aku?” Suaminya pun juga menjawab dengan suara yang tak kalah datar.
“Kamu terlalu mengagung-agungkan sosok berkelamin wanita.
Sampai-sampai dipikiranku kamu menganggap bahwa lelaki tercipta dari sisi buruk perempuan.”
“Ya, itu memang benar. Lalu apa masalahnya.”
“Masalahnya bagaimana kalau anak kita nanti terlahir laki-laki.”
“Hentikan!” tiba-tiba saja suami membentak dan dapat digambarkan dengan jelas suasana pada waktu itu menjadi sepi sesepi berada di dasa lembah.

Tanpa pertanyaan dan pernyataan lagi,
Malam itu percakapan suami istri tersebut seketika berakhir.




“Kelamin adalah masalah sepele bentuk alat kencing.” Hal tersebut merupakan keyakinan yang setiap hari selama bertahun-tahun selalu dikuatkan dalam hatinya, hati seorang bapak yang berusaha menerima kenyataan bahwa anak perempuan yang diharapkannya ternyata berkelamin laki-laki. 

Setelah lebih dari 16 tahun,
percakapan tersebut tak pernah terdengar lagi kelanjutannya, sekali pun.

“Seno, jangan lupa pulang sekolah langsung buat KTP ya nak.” Pesan ibu kepada anaknya sebelum berangkat sekolah dengan berjalan kaki.
“Iya Bu.” Jawab anak yang bernama panjang Roseno Putra Kartono dengan lembut. Anak lelaki itu pun segera berangkat ke sekolah, dengan perasaan tidak senang seperti biasanya. Dan tidak ada yang tahu.


Pergaulan sesat adalah pergaulan bangsat,
yang bangsat adalah yang jalang,
dan yang jalang cuma wanita, aku.

Sekolah adalah tempat membosankan dan paling memuakan untuk Seno,
dan tak ada yang tahu, hanya Seno dan kawan-kawannya yang mengetahui keberadaan sebenarnya.
Hari-harinya dilalui dengan sebutan banci, jalang, keple, dan sebagainya yang bernada melecehkan sosok kelaki-lakiannya.

Apa salahnya memiliki gaya bicara yang lembut?
Apa salahnya aku suka berpakaian rapi?
Apa salahnya aku tidak suka melihat sesuatu yang kotor?
Apa salahnya aku?
Aku tidak bersalah!
Pertanyaan tersebut selalu dipertanyakan Seno setiap hari sedari kecil, apa yang salah dari hidupnya?

Perempuan tidak pernah bersalah, kenapa dijadikan sebagai alasan olok-olokan? Apa yang jalang cuma perempuan? Pelacur laki-laki pun ada. Dan mereka lebih munafik daripada pelacur perempuan yang berani terang-terangan mengakui dirinya sebagai pelacur.
Apa suka bersih dan rapi itu salah? Kalau pun salah. sekarang sudah banyak wanita tomboy.
Apakah masih salah? Bukannya emansipasi wanita sudah ada lama?
Aku percaya perempuan tercipta tidak untuk disalahkan dan dijadikan salah.

Aku jadi ingat sewaktu aku masih kecil, ketika itu aku menghabiskan sore hingga malam hari bersama bapakku. Aku lupa alasannya, dan tiba-tiba saja aku bertanya kepada bapakku, “Pak, beda laki dan perempuan itu apa?”.
“Kamu kenapa Tanya? Kamu pengen jadi perempuan?“, jawab bapak sembari tertawa.
“Bedanya apa Pak?” Aku pertegas pertanyaanku.
“Kamu dengar baik-baik, lelaki adalah sisi buruk wanita.”
“Apa itu wanita Pak?” Sahutku.
“Wanita itu perempuan. Bapak ulang ya, kamu dengarkan. Dan jangan dipotong, kalau kamu memotong omongan orang lain berarti kamu tidak sopan. Kamu seharusnya sopan seperti ibumu, ibumu perempuan yang sangat sopan, dan juga cerdas. Lelaki adalah sisi buruk perempuan, dan perempuan adalah wujud sempurna dari laki-laki.“
“Maksudnya apa Pak?”
“Maksudnya, perempuan lebih baik dari laki-laki, seperti itu.”
“Kalau banci Pak?”
“Banci? Menjadi banci itu tidak salah. Kesalahan mereka adalah mereka tidak bisa menerima keadaan yang sebenarnya kalau mereka laki-laki. Mereka terlalu mengagumi sosok perempuan, sehingga merubah dirinya agar seperti perempuan.”
“Kalau begitu yang menentukan lahir sebagai laki dan perempuan siapa Pak?”
“Kalau kelamin bisa ditentukan, lalu bagaimana ada lelaki di dunia? Pasti mereka semuanya memilih menjadi perempuan. Kelahiran tidak bisa ditentukan.”
“Kelahiran tidak bisa ditentukan? Seperti mbak-mbak mahasiswi di seberang rumah? Yang diusir orang tuanya karena hamil? Hamil asalnya darimana Pak..?”
“Aku masih ingin menanyakan hal pada malam itu, tetapi bapak segera menyuruhku untuk masuk kamar. “Sudah malam, kamu masuk kamar sana, belajar biar pinter. Jangan tidur terlalu malam juga.”

Malam itu mata bapak terlihat berkata kepadaku “kamu tidak sopan”.


Tiba-tiba saja ada yang melempar sesuatu ke kehidupanku,
mengoyakkan pikiranku, sehingga pikiranku berantakan.

“Plak!” Suara buntalan kertas bekas yang dilempar ke kepalaku. Aku tahu itu kertas bekas setelah melihatnya terjatuh di lantai setelah mengenai kepalaku.
“Bajingan!” Tiba-tiba saja aku dapat mengeluarkan makian. Seketika itu kelas menjadi sepi, semua orang melihatku. Mungkin aku terbiasa mendengar makian-makian yang diberikan untuk, dan aku hanya berusaha mengembalikannya dalam bentuk 1 frasa.  Aku paling benci kalau aku terganggu saat asyik berjalan-jalan dalam pikiranku. Kalau pikiranku terganggu, dan aku tersesat, lalu siapa yang harus disalahkan?
            “Kamu ngomong apa Seno! Segera keluar, jangan masuk pelajaran saya hari ini!” Bentak guru baru berkelamin lelaki yang sedang mengajar, padahal beberapa bulan yang lalu dia cuma numpang KKN di sekolahku.
Dan aku keluar begitu saja tanpa dimintai dan memberi penjelasan apa pun.

“Dasar Mawar banci! Nama kamu diganti Rosena saja, biar lebih imut!” Makian teman-temanku yang sering kudengar itu, seperti memberi sorak-sorai bangga kepadaku, karena ini adalah pertama kalinya aku berkata kotor dengan mengumpat bajingan. aku berhenti sebentar, tidak ada lagi makian yang kudengar. Aku lihat orang-orang yang melihatku, termasuk guru baru yang tiba-tiba saja membentak dan mengusirku keluar tanpa tahu duduk perkaranya.
Aku merasa hebat, hari ini umurku 17 tahun. Umur  tersebut adalah umur diakuinya keberadaan seseorang, yang dilambangkan dengan dimilikinya KTP. Aku menyambutnya dengan umpatan. Aku berharap bapakku tidak tahu, aku takut tidak diakui sebagai anaknya karena aku tahu sifat bapakku yang yang tidak suka dengan hal-hal yang berbau kerusuhan.


Aku masih berdiri dengan kesombongan,
kebanggan tersebut aku dapatkan bersusah payah dalam waktu yang cukup lama.
Biar saja orang lain melihat heran,
yang pasti aku tidak boleh heran kepada diriku sendiri,
karena aku sendiri yang tahu diriku sendiri.

Aku masih berdiri di depan kelas, dengan gagah berani layaknya pahlawan proklamasi. Aku ingin menunjukan kepada orang-orang yang melihatku, kalau cuma disuruh berdiri seperti ini tidak terasa apa-apa buatku. Aku ingin membuktikan kepada guru baru yang lagaknya sok hebat, kalau aku tidak butuh bangku sekolahan dimana ada pengajar yang tidak masuk akal seperti dia.
“Ini jam pelajaran saya. Kamu masuk kelas saja, kamu sudah tidak disetrap. Saya perbolehkan kamu masuk.” Ucap seorang ibu guru setengah baya kepadaku. Aku sekarang jadi tahu apa yang dimaksudkan bapakku “lelaki adalah sisi buruk perempuan”.
“Tidak Bu, saya memilih disini. Sudah terlanjur nyaman. Saya bebas memikirkan apa yang ingin saya pikirkan, tidak seperti didalam kelas. Saya juga bosan, saya ingin berdiri di sini sampai jam sekolah selesai.” 
“Itu terserah kamu, itu pilihanmu. Kalau kamu kelelahan, kamu boleh masuk dan duduk di kelas.” Jawab ibu guru tersebut kemudian masuk ke kelas untuk mengajar.
Aku manfaatkan waktu itu untuk menikmati kesendirianku.


Aku ingin segera pulang, dan segera membuat KTP,  dan waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah bel berbunyi aku segera masuk kelas. Sewaktu itu bu guru ramah tadi masih mengajar. Saya segera ambil tas begitu saja, dan berpamitan.

Teman-teman di kelas melihat ada yang berbeda denganku, mereka hanya melihat terheran-heran. Aku berpikir mungkin karena umurku sudah 17 dan sifat alami laki-lakiku keluar. 


Di Kelurahan aku disuruh mengisi formulir biodata untuk KTP. Aku bingung.
tanpa disadari aku menulis kelaminku perempuan dan namaku Rosena Putri Kartono.


Dibuat dari jam 15.00 sampai jam 16.23,
18 Desember 2012

















































Rosena Nmotise




Saya suka membaca cerpen,
tetapi saya tidak suka membuat cerpen karena saya merasa tidak bisa membuat cerpen.


Pada awalnya saya ingin membuat tokoh Rosena sebagai sebuah simbol dalam cerita. Saya tidak mau menjelaskan Rosena sebagai simbol apa, saya biarkan pembaca mengartikannya sendiri. Toh saya juga tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan apa, he he he


Ini sebenarnya adalah cerpen yang harus dibuat untuk kepentingan tugas kuliah.
Tugas kuliah tersebut adalah membuat sebuah cerpen berdasarkan lirik sebuah lagu. 
Lagu yang saya pilih adalah "Don't Worry" , lagu reggae yang dinyanyikan oleh Tony Q.
Beberarap waktu yang lalu saya menganggap lagu tesebut sebagai lagu mars dalam membuat skirpsi.
Lirik-liriknya membuat saya bersemangat dan pantang menyerah dalam menjalani perkuliahan. Tetapi sayangnya saya sudah bosan dan tidak terinspirasi apa-apa lagi dari lagu itu, he he he

Ide dari cerpen ini awalnya adalah perjuangan seorang mahasiswa untuk lulus, ha ha ha
Tidak tahu kenapa dalam proses pembuatannya saya memiliki keinginan untuk membuat cerpen ini terlihat imut. Bisa jadi penyebabnya adalah mata kuliah yang satu ini saya ambil sekelas dengan anak semester 3. Sebenarnya saya belum mengambil mata kuliah ini karena suatu kecelakaan, orang-orang mengira saya mengulang mata kuliah ini. Saya biarkan saja, toh saya sendiri juga memang sering mengulang, ha ha ha

Saya sebenarnya ingin membuat tokoh Rosena ini bagaikan mawar indah yang tidak bisa melihat keindahannya sendiri. Salah satu penyebabnya adalah saya sering muak melihat orang-orang yang tidak indah tetapi sok indah (artikan sendiri, he he he ). Saya ingin memperlihatkan kepada orang-orang sok indah tersebut kalau ada sesosok makhluk yang benar-benar indah tetapi tidak pernah merasa indah, apalagi sok indah. Saya bukan cerpenis handal, jadi maklum saja ide-ide saya tidak bisa disampaikan dengan jelas, he he he

Beberapa perempuan berkata kepada saya agar membuat lanjutan cerita ini, dan mereka berharap cerpen ini berlanjut menjadi novel. Mungkin pada saat itu mereka sedang kesambet, atau mungkin berusaha menghibur saya karena tulisan saya jelek.

Selamat membaca, 
Salam #mawarnakal ...


  
Rosena

Pagi ini terasa sangat memuakan, udara yang tercium tidaklah terasa segar tetapi merasa busuk. 
Burung-burung tak terlihat beterbangan di langit, matahari juga terasa membuat panas keadaan.
Pagi itu Rosena harus terpaksa harus mandi. Sebagai seorang perempuan dia terasa tertindas, pasalnya semua orang selalu menuntut dia untuk terlihat sok imut.
“Apa sih gunanya mandi? Untuk membersihkan badan khan? Sedangkan aku merasa badanku bersih? Aku akan mandi kalau aku sudah merasa gatal-gatal, kenapa menjadi perempuan selalu dituntut untuk selalu ribet.” keluhnya sambil menenteng handuk masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian mahasiswa semester 8 itu pun keluar dari kamar mandi. Aroma badannya wangi aroma keterpaksaan menjalani pagi ini. Setelah berganti baju dia langsung menuju ke dapur yang terletak di samping kosannya. Seperti biasanya, dia akan sarapan susu dan roti tawar.
Sembari dia membuat susu, di mulutnya ternyata sudah terlihat roti tawar yang sudah tampak setengah. Dia memang tak pernah berlama-lama sewaktu mengunyah makanan karena dia merasa itu tak berguna, toh akhirnya sama-sama masuk ke perut juga.  
“Lama-lama kok hidupku rasanya muter-muter seperti susu ini ya?
diaduk-aduk agar bisa campur jadi satu, cuma untuk diminum.” Keluhnya sewaktu mengaduk susu cair dengan air panas, menu untuk sarapannya.
“Bertele-tele dibuat, berlama-lama diaduk, sama saja khan? Sebentar diminum juga sudah habis.
aku agak tak paham dengan sesuatu yang seperti ini. Menurutku membuat susu untuk diminum dengan cara mengaduknya hanya berfungsi untuk pemanis dilidah. Seandainya aku minum air hangat 1 gelas dan kemudian minum susu cair secara terpisah dalam waktu berdekatan, mungkin gunanya akan sama saja.“ ucapnya setelah menghabiskan susu hangat satu gelas sebelum dia bergegas berangkat kuliah.

Dia berjalan kaki dari kosannya menuju kampus, jarak kosnya tidak begitu jauh.

Sepatu yang digunakan tidak dipakainya dengan benar, seatu tersebut diinjak bagian belakangnya. Sepatunya adalah sepatu bekas kakaknya dulu yang tidak dipakai lagi karena sudah kekecilan. Hal kecil yang tidak begitu penting tersebut menjadikan Rosena seperti seorang pencuri perhatian. Tetangganya ada yang sudah terbiasa melihatnya, ada juga yang tetangganya yang walaupun sudah sering melihatnya masih juga terheran-heran, ada juga orang-orang yang menolehkan kepala setelah melihatnya cara mengenakan sepatu, sepertinya hendak meyakinkan apa yang dilihatnya.
Rosena memiliki paras yang cantik, rambutnya yang panjang tergerai cantik alami walaupun tidak pernah ke salon. Walaupun cara memakai sepatunya sembarangan, tetapi dengan sekali melihatnya siapa pun akan tahu kalau sepatu dia adalah sepatu converse, sepatu yang cukup ternama dan cukup mahal.
Sebenarnya Rosena adalah anak orang kaya yang kekayaannya secara berlebihan. Ayahnya memiliki showroom mobil, sedangkan ibunya mengelola 2 rumah makan yang cukup besar. Mungkin dia adalah anak yang bodoh karena tidak memanfaatkan keadaan itu dengan sebaik-baiknya, seperti memakai uangnya untuk perawatan ke salon, membeli pakaian bermerk ternama dengan harga mahal, atau mungkin meminta kendaraan jenis terbaru untuk mengantarnya kemana saja dikota tepat dia kuliah.  
Kurang dari 10 menit sampailah dia di depan pintu kelas, dia sudah terlambat beberapa menit dari jam mulai pelajaran seharusnya, tetapi yang dilihatnya pertama kali adalah bangku dosen yang kosong. Kemudian dia bertanya kepada salah seorang temannya yang sedang autis bodoh dengan handphone canggihnya setelah menepuk pundaknya, “Dosennya kemana? Sudah datang?”.
“Kamu kaya nggak tahu saja kebiasaan dosen itu, paling-paling telat.”
“Tapi ada khan? Aku soalnya mau bimbingan skripsi hari ini.”
“Kamu mau bimbingan? Ciyus? Miapah?”
“Hah? Kamu itu ngomong apa? Aku nggak dong bahasa kamu.”
“Maksudku kamu beneran mau bimbingan?”
“Ya iyalah, ini lagi mau ngajuin proposal.”
“Buru-buru cepet lulus banget”. Sahut temannya acuh tak acuh sambil tetap autis bodoh dengan handphone canggihnya. Setelah mendengar jawaban dari temannya yang bermuka maksa dengn penuh dempulan, dia segera mencari tempat duduk.
Tak lama kemudian dosen yang seharusnya datang tepat waktu itu pun tiba.
“Anak-anak, bapak ada acara. Sebagai gantinya kalian membuat tugas. Ini tugasnya sudah bapak siapkan. Oh iya, teman kalian yang tidak masuk tidak usah diberi tahu kalau ada tugas. Kalian besok absensi 2 kali, kalau mengerjakan tugas.” Kata bapak itu sembari bergegas meninggalkan kelas.
“Sebentar Pak!” teriak Rosena.
“Ada apa ya? Tanya dosen tersebut.
“Saya mau menyerahkan proposal skripsi Pak.” Ucap Rosena sambil mendekat dan segera menyerahkan proposalnya.
“Nanti saya baca. Minggu depan kamu datang ke ruangan saya ya.” Jawab dosen tersebut sambil meninggalkan Rosena pergi. 


Rosena tidak menjawabnya, dia tidak terlihat jengkel karena tingkah dosen tersebut yang terkesan seenaknya.


Matahari semakin terasa menyebalkan panasnya, kicau burung tidak terdengar satu ekor pun, hanya tercium udara panas dan terdengar berisik kendaraan.
Rosena menghindari itu semua. Dia memilih berada di taman belakang kampusnya dan duduk dibawah pohon yang cukup besar dengan lesehan tanpa alas. Tidak ada yang dia kerjakan, dia cuma duduk –duduk saja nyaris seperti anak hilang. Dia merenung merasa muak dengan hidupnya yang terasa seperti sudah dipaksa dan tanpa kebebasan.
Kejadian pagi hari juga mengganggunya, mulai dengan kebiasaan mandi yang dia tidak suka, teman tololnya penganut aliran konsumerisme fanatik, dan proposal skripsi yang sudah dibuat berminggu-minggu tetapi ditanggapi dengan tidask sesuai harapan. Semuanya seperti sudah terencana untuk membuat hari indah Rosena menjadi terasa berantakan.
Sampai sekarang ini dia masih bingung kenapa perempuan harus terlihat cantik dan anggun. Dia selalu bertanya-tanya kenapa harta kekayaan selalu menjadi sesuatu yang dipamerkan. Dia selalu tidak terima dengan keadaan dimana orang harus berusaha tampak sempurna. Sebenarnya dia hanya ingin hidup apa adanya dengan sesukanya, termasuk perempuan yang tidak dipandang jijik ketika tidak mandi.
Tak lama kemudian dia mengeluarkan buku yang berjudul Nada Kedelapan. Buku itu dilihatnya secara perlahan. Dia buka, dia baca, dan dia merasa sangat menikmatinya. Sesekali dia juga terlihat tampak jelas sekali sedang menahan senyum.
Sebenarnya buku itu adalah buku kumpulan puisi anak-anak disebuah panti asuhan. Buku itu nantinya akan diperbanyak dan akan dijual untuk kelangsungan hidup anak-anak di panti asuhan tersebut. Rosena sendiri yang mengurusi dan membantu penerbitan buku itu.
Tiba-tiba dia menutup buku itu, dan melihat sampulnya. Nada Kedelapan. Sebuah nada yang belum diketemukan. Dia kemudian teringat pertemuannya beberapa tahun lalau dengan Budi di bawah sebuah jembatan. Budi adalah penghuni panti asuhan yang dia carikan dana. Sewaktu itu Budi yang berpakaian dekil dan compang-camping sedang terisak menangis, dan Rosena menghampirinya.

“Kamu kenapa dik?” Tanya Rosena sambil membelai lembut kepala anak itu.
“Saya habis dipalak sewaktu ngitung uang. Padahal uangnya mau saya kasih ke bapak.”jawabnya sambil tersedu-sedu.
“Kamu ngamen? Minta-minta? Disuruh bapakmu dik?”
“Saya nggak disuruh, saya minta-minta sendiri”
“Pulang aja yuk, nanti kakak antar.”
“Nggak mau, saya mau kasih uang ke Bapak.”
Walaupun Rosena tidak mengenal anak itu, dia merasa iba dengan anak itu. Pakaian anak itu tidak membuatnya Rosena merasa jijik dan berpikiran buruk kepadanya.
“Gini saja dik, uang kamu kakak tukar. Tapi kakak harus antar kamu pulang.”
“Beneran mbak? Tanya anak itu dengan polosnya sambil mengusap air matanya.
“Ehm, iya. Malah mbak tukar 2 kali lipat.” Ucap Rosena sambil menyesesuaikan panggilan anak itu.
“Rumahku di panti asuhan diujung jalan sana. Ada gang kecil nanti masih jalan sebentar. Mbak jadi mengantar?” tanya anak itu dengan riang.
“Ayo segera pulang. Bapakmu sudah menunggu dirumah.” Ajak Rosena sambil mengusap air mata anak itu.

Setelah sampai di panti asuhan tempat Budi tinggal, Rosena menjadi tahu kalau rumah tersebut akan digusur karena pengurus panti asuhan tersebut sudah tidak pernah mendapat donatur lagi. Anak-anak yang tinggal disitu terpaksa harus bekerja sepulang sekolah, bahkan ada yang sudah berhenti sekolah.

Rosena sangat benci keadaan yang ada disekitarnya, termasuk menjadi anak orang kaya yang dipandang orang. Dia merasa terpenjara dengan keadaannya sendiri, tidak ada yang memaksanya, tetapi dia merasa dituntut untuk terlihat sebagai perempuan yang sempurna dimata  banyak orang. Dia sangat benci keadaan itu.
Kali ini dia akan merasa sangat bersalah sekali karena dia harus berkata “Pak, saya adalah..? Saya akan membeli rumah ini berapapun harganya agar anak-anak asuhan bapak bisa tetap tinggal disini. “
“Bukannya apa, tetapi mbak siapa ya?” tanya bapak pengurus panti tersebut dengan gemetran tidak percaya.
“Orang tua saya kebetulan adalah orang yang mampu. Dan saya yakin saya bisa meminta orang tua saya untuk membeli rumah ini.”
“Saya bukan tidak mau menerimanya. Tetapi saya merasa tidak enak kepada mbak. Saya belum pernah bertemu dengan mbak.”
“Tidak apa-apa Pak, saya lahir batin ikhlas.”
“Ini bukan ikhlas dan tidak ikhlas mbak, saya benar-benar merasa tidak enak”Ucap Bapak itu dengan mata yang mulai berair.
“Saya tidak pernah membantu orang lain. Mungkin ini saatnya saya membantu orang lain Pak.” Jawab Rosena dengan senyum manis dan menahan air mata.
“Mbak membayar biaya kontrakannya saja saya sudah berterimakasih sekali.”
“Tidak Pak, saya akan membeli rumah ini untuk anak-anak yang ada disini.”

Suasana tiba-tiba menjadi haru, Rosena dan bapak pengurus panti asuhan berpelukan. Anak-anak yang melihatnya juga ikut terharu. Budi yang saat itu melihat segera pergi kekamarnya untuk menangis keras-keras.

Tanpa sadar Rosena tersenyum dengan mata berair mengingat kejadian itu. Setiap mengingat pertemuannya dengan Budi, dia selalu merasa sangat bersyukur dengan keadaannya saat ini.  Dia menjadi ingat kenapa dia tidak suka mandi dan terlihat rapi sejak awal kuliah, Karena dia tahu tidak semua orang dapat minum air bersih tidak semua memiliki pakaian yang kayak pakai.
Dia merasa belajar banyak dari anak kecil yang bernama Budi. Sebelumnya dia pernah menyesal karena dilahirkan sebagai anak orang kaya raya, tetapi setelah kejadian itu dia merasa bersyukur karena dia bisa menolong orang lain dengan keadannya itu. Setelah pertemuan dengannya, dia menjadi lebih bersemangat menjalan hari-harinya, karena dia tahu banyak hal yang harus dilakukan sebelum mimipi-mimpinya terwujud.


Cuaca menjadi mendung perlahan, 
Rintik-rintik air sudah terasa dikulit.
Rosena tidak segera berlari mencari tempat untuk berteduh,
tetapi dia segera mencari tempat sampah dan mengobrak-abrik isinya.
Dia mengambil sebuah kantong plastik dan memasukan buku
 Nada Kedelapan tersebut kedalamnya.
Hujan turun deras, 
Rosena tidak berteduh, tetapi seperti merasa menikmati air hujan yang menguyur tubuhnya.

Mungkin dia merasa kehidupannya yang dirasa tidak enak akan ikut luntur terbawa air hujan.


Pagi ini cerpen ini dibuat dengan terpaksa.
1048
61112

Minggu, Desember 16, 2012

Kebusukan Minggu Pagi


Yang aku takutkan ternyata adalah hari minggu,
Hari yang kuanggap hari libur itu sekarang ini menjadi hari yang menjijikan dan mengerikan,
menjijikan untuk saat ini,
dan mengerikan untuk masa depan.

Minggu pagi adalah pagi hari yang busuk.
Pagi seharusnya adalah waktu tersegar dalam 24 jam,
tetapi sekarang waktu itu seperti waktu yang busuk,
parfum-parfum beraroma sengak menusuk hidung sampai tersedak,
mata-mata terbelalak tidak percaya pada apa yang dilihatnya,
mulut-mulut mengumpat dalam bentuk pujian, terdengar “ lonte”.

Lonte bertebaran dimana-mana,
pecinta prostitusi pasti berteriak hore kegirangan,
pecinta kekinian bergirang bersorak : aku kekinian

Di sela euforia pelacuran masal tersebut ternyata ada banyak yang menjadi korban,
yang melihat dan yang dilihat,
bukan pandangannya yang busuk, tetapi benar-benar busuk apa yang dilihat,
dan yang dilihat, benar-benar membusukan diri sendiri tanpa disadari.
dan mereka berada dalam satu tepat yang sama,
hasilnya mereka sama-sama terlihat busuk,
karena busuk adalah hal yang menular.

Orang-orang yang tergilas jaman atas nama globalisasi,
dengan pakaian serba kemini-minian, mereka bangga berkata aku orang kekinian,

Sempat terlintas dalam lamunan,
“aku seperti menelanjangi diri”,
padahal sewaktu melamun yang ada adalah benar-benar ketelanjangan.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
pada suatu minggu pagi,
yang bertanggal 16 di bulan 12 tahun 2012
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, Desember 15, 2012

Tak Usah Dibicarakan Lagi

Aku menuliskan ini beberapa waktu yang lalu,
pada saat itu aku masih sering berduaan dengan motor kesayanganku,
nama motor kesayanganku itu Belang Motise.
Motor kesayanganku ini dulunya ber plat AB 3662 UA,
dan aku hilangkan angka 3 dan 2 nya, sehingga terbaca menjadi ABG GUA,
benar-benar motor yang special untuk aku.
Sudah setahun ini kami berpisah dan belum pernah bertemu lagi,
dia terpaksa dijual untuk biaya kuliahku yang tidak tahu habis berapa banyak biaya dan berapa banyak waktu lagi untuk itu..
Dari 2006 sampai 2011, bukan waktu yang singkat untuk saling mengerti,sayangnya kami harus berpisah... 

"Salah satu mimpiku adalah mendapatkannya kembali..."

---------------------------------------------------------------------------------------------

Nadana : Tak usah dibicarakan lagi ya.

AB3662UA : Tentang apa?

Nadana : Tentang yang tak usah dibicararakan.

AB3662UA : Tentang?

Nadana : Tentang itu, apalagi?

AB3662UA : Kalau temanmu membicarakan bagaimana?

Nadana : Biarkan saja.

AB3662UA : Kalau temanmu yang lain membicarakan bagaimana?

Nadana : Biarkan saja.

AB3662UA : Kalau temanmu yang lainnya lagi membicarakan bagaimana?

Nadana : Berapa kali harus ku ulang?

AB3662UA : Sampai aku muak muak mungkin.

Nadana : Kamu bosan?

AB3662UA : Tidak. mungkin iya.
                      Untuk mengisi waktu saja sebenarnya.

Nadana : Mengisi waktu ya?

AB3662UA : Mungkin begitu.

Nadana : Bajingan kamu kalau begitu.

AB3662UA : Maaf, yang bajingan temanmu.
                     Maksudku, orang yang mengaku temanmu.

Nadana : Aku tahu.
               Tak usah dibicarakan lagi.

AB3662UA : Bagaimana tentangnya?

Nadana : Hentikan saja.
               Aku sangat lelah.
               Terlalu banyak yang berkejaran dalam otak.
               Bodohnya lagi, tanpa alasan, aku jadi ikut berkejaran juga.

AB3662UA : Kamu suka?

Nadana : Tidak.

AB3662UA : Kalau tidak hentikan saja.

Nadana : Kalau bisa kuhentikan sejak dulu.

AB3662UA : Kenapa tidak daridulu saja?

Nadana : Sudah sebenarnya.
               Selalu saja dia yang datang duluan.

AB3662UA : Dan kacau?

Nadana : Tak cuma kacau.
               Selalu saja membuat muak.

AB3662UA : Tidak kamu bicarakan saja?

Nadana : Tidak.

AB3662UA : Tapi perlu lho itu.

Nadana : Buat aku tak perlu.
               Tentang itu, temanku lebih dahulu membicarakannya.
               Aku tak sudi membicarakannya. Buat aku tidak terlalu penting.

AB3662UA : Memang, tidak berguna.

Nadana : Sayangnya dia di mata orang lain selalu berguna.

AB3662UA : Mata siapa yang melihat begitu?

Nadana : Mata dia..

AB3662UA : Tapi tidak di mataku. Mata teman-temanku. Teman-temanmu.
                      Mata kita sama, sudah sama sama terbuka.
                      Doakan saja dia cepat terbuka matanya.

Nadana : Sudah,
               Sudah pernah kudoakan dia.

AB3662UA : Sudah setiap hari?

Nadana : Hampir.

AB3662UA : Setialah kepadanya.

Nadana : Sampai kapan?

AB3662UA : Sampai kamu muak mungkin.
                      Sampai kamu tidak sanggup setia.

Nadana : Aku tidak bisa ingkar tapi.

AB3662UA : Itu bukan ingkar,
                     Kalau bahasa egoisnya itu berubah pikiran.

Nadana : Akan aku coba.
               Aku sudah lelah.

AB3662UA : Aku tahu kamu lelah.

Nadana : Darimana?

AB3662UA : Mata kamu setiap hari kelelahan.
                     Terlalu banyak sesuatu yang tak ingin kamu lihat.

Nadana : Mata?
               Ya sudah.
                Daripada ketahuan,aku besok mau memakai kacamata saja.

AB3662UA : Telingamu.

Nadana : Kenapa?

AB3662UA : Merah.
                     Terlihat jelas banyak sesuatu yang terdengar,
                      tetapi kamu sendiri tidak menginginkannya.

Nadana : Jujur. Iya.
               Aku tidak menguping lho tapi.

AB3662UA : Aku tahu.
                     Siapa juga yang mendengarkan sesuatu yang tidak ingin didengar.
                     Jangan jangan memang ada yang jahat sama kamu.

Nadana : Tidak mungkin.
               Aku percaya tak ada temanku yang begitu.

AB3662UA : Masa?
                     Coba ingat-ingat lagi.

Nadana : Aku tak mau mengingatnya.
               Aku anggap dia tidak sengaja.

AB3662UA : Dan selalu tidak sengaja.

Nadana : Ya.

AB3662UA : Dan hobinya selalu tidak sengaja.

Nadana : Mungkin.

AB3662UA : Tidak sengaja tentang bla bla bla.. bla bla bla..

Nadana : Cukup.
               Tak usah dibicarakan lagi.

AB3662UA : Aku ingin penyelesaian.

Nadana : Aku juga!

AB3662UA : Lalu berbuat apa?

Nadana : Aku tak bisa berbuat apa-apa!

AB3662UA : Aku tak terima.

Nadana : Aku juga!

AB3662UA : Lalu berbuat apa?

Nadana : Sudah kubilang! Aku tak bisa berbuat apa-apa.

AB3662UA : Bagaimana kalau kita berbagi cerita? J

Nadana : Mau, tapi malas.
               Itu sudah pernah.

AB3662UA : Bagaimana kalau kita balas dendam?

Nadana : Boleh. Ide bagus.
               Jangan! Biar saja temanku saja.
               Dia baru pertama kali, sedangkan kita mungkin sudah terbiasa.
               Ya. Kita terbiasa karena kita bodoh.

AB3662UA : Aku tak bodoh.
                     Keadaan saja yang tak pernah berpihak.

Nadana : Itu bodohnya kita.
               Kita tak pernah menemukan keadaan yang berpihak.

AB3662UA : Aku tak suka perkataanmu.
                     Aku sudah mencoba mencarinya.
                     Tapi tetap saja keadaan itu lari.

Nadana : Sepertinya keadaan yang baik itu tak suka kepada kita dan memilih bersama orang lain.

AB3662UA : Kita pergi saja yuk, mencari keadaan itu.

Nadana : Baiklah, aku sudah muak dengan semua ini.

AB3662UA : Tentang,,

Nadana : Diam!
               Aku tak mau membicarakannya.
               Tak usah dibicarakan lagi. 


Kamu Adalah Pilihanku



Puisi (sok) imut ini ditemukan di blog ku yang kesekian,
sebenarnya ini adalah blog ku yang terbaru,
sekedar informasi saja,
aku membuat blog baru bukan karena dikejar-kejar penggemar yang fanatik,
tetapi karena lupa password, he he he

Puisi (sok) imut ini dibuat pada bulan 9 tahun 2012,
selamat membaca... :)


-----------------------------------------------------------------------------------------


Keraguan ternyata menyenangkan.
Aku harus mensyukuri rasa raguku.

Mungkin suatu saat ketika aku tidak ragu lagi aku akan merindukan rasa ragu,
aku bisa saja mencari-cari keraguan yang sudah tidak ada lagi.

Ketika aku ragu,
berarti ada yang diragukan,
dan yang diragukan adalah pilihan.

Kalau aku tidak merasakan keraguan,
berarti aku sudah tidak lagi memiliki pilihan.


Kamu adalah raguku,
Karena kamu membuatku ragu,
Karena kamu adalah pilihanku...