Mawar yang indah, tetapi sayangnya belum pernah menikmati keindahannya. Im Indonesian, im not "The Naughty Rose"
Sabtu, Desember 29, 2012
Telanjang adalah suatu kebebasan
"Seseorang yang sudah menelanjangi,
hendaknya juga memberikan sandangan kembali.
Atau mungkin memang sengaja ada niat mempermalukannya.
Atau mungkin memang tidak bisa memberikan sandangan kembali."
Aku ingat suatu kejadian sewaktu SMA,
tidak sedikit dan terasa banyak, kalau aku sedang ditelanjangi.
Mereka, aku sebut mereka karena mereka oknum yang berjumlah banyak.
Aku disuruh buka baju habis-habisan,
aku menolak, dan mereka melucutiku.
Katanya, sehabis kamu terbuka dan telanjang semuanya,
kamu bisa diketahui bagian tubuh mana saja yang kotor.
Aku berpikir mereka akan memandikanku.
Ternyata,
mereka hanya menelanjangi saja,
tidak sedikit, aku merasa dipermalukan.
Aku bertelanjang,
dan aku tidak merasa bebas,
mata-mata yang tidak aku kenal memandangiku dan mengartikanku seenaknya.
Aku dianggap apa?
Barang percobaan?
Mereka menelanjangiku atas nama percobaan, untuk kepentingan mereka di masa depan nanti?
Tetapi sandanganku kemudian lupa dikembalikan padaku.
Sewaktu itu aku adalah orang bodoh yang sok heroik jagoan menolong orang lain,
sehingga aku tidak melakukan perlawanan atas nama pembelaan diri.
Orang lain selamat,
dan aku celaka,
ingatku sampai detik ini.
Pada saat aku ditelanjangi mereka tidak berusaha memberikan satu helai pakaian pun padaku.
Hingga saat ini, aku berpakaian 6 lapis,
aku tetap saja merasa ditelanjangi.
Aku pikir mereka adalah sekumpulan pecundang yang berusaha menelanjangi anak-anak labil seusiaku pada waktu itu.
Mereka cuma berani kepada anak-anak labil yang belum bisa berpikir dengan jelas.
Seandainya mereka berurusan dengan seorang pemuda, bukankah mereka akan dihabisi,
tidak tertutup kemungkinan mereka sendirilah yang akan ditelanjangi.
Masa labilku penuh ketololan,
aku selalu ingin bersikap heroik seperti pahlawan-pahlawan di kotak yang bernama televisi,
orang-orang disekitarku berlarian, sebut saja teman,
dan aku disana sendirian, ditelanjangi dan dihakimi dengan paksa,
sungguh kejadian tolol yang terasa heroik pada saat itu.
Sayangnya aku telat sadar,
aku baru sadar beberapa tahun setelah itu bahwa aku adalah korban penipuan keadaan,
aku ditelanjangi dan tidak diberi sandangan kembali.
Dan sekarang ini aku lebih suka tidak memakai baju,
karena bertelanjang adalah sebuah ekpresi kebebasan,
dan sandangan hanyalah busana pengekang.
Telanjang adalah suatu kebebasan.
Sesekali aku pernah berpikir, apakah sandanganku pada saat itu bisa kembali?
Padahal benar, bukan aku yang seharusnya ditelanjangi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar